Rabu, 07 Januari 2015


ANALISIS KOMPONEN MAKNA
LEKSIKOLOGIS ( MAKNA DAN REFERENSI ) PADA PEMBAGIAN JAMBAR DALAM PESTA NIKAH DAERAH SILINDUNG-HUMBANG SIBORONG-BORONG
Diajukan Untuk Memenuhi Mata Kuliah Semantik

Oleh :

Srimarni Nababan      ( 12110297 )
Dosen Pengampuh : Sarma Panggabean, S.Pd., M.Si







FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN
MEDAN
2014


PENGANTAR

Mengenai tentang Jambar

Setelah selesai pemberkatan dari Gereja, kedua mempelai juga menerima pemberkatan dari adat yaitu dari seluruh keluarga terkhusus kedua orang tua. Dalam pesta adat inilah disampaikan doa-doa bagi kedua mempelai yang diwakili dengan pemberian ulos.  JAMBAR adalah istilah yang sangat khas Batak. Kata jambar menunjuk kepada hak atau bagian yang ditentukan bagi seseorang (sekelompok orang). Kultur Batak menyebutkan ada 3(tiga) jenis jambar. Yaitu: hak untuk mendapat bagian atas hewan sembelihan (jambar juhut), hak untuk berbicara (jambar hata) dan hak untuk mendapat peran atau tugas dalam pekerjaan publik atau komunitas (jambar ulaon).
Tiap-tiap orang Batak atau kelompok dalam masyarakat Batak (hula-hula, dongan sabutuha, boru, dongan sahuta dll) sangat menghayati dirinya sebagai parjambar. Yaitu: orang yang memiliki sedikit-dikitnya 3(tiga) hak: bicara, hak mendapat bagian atas hewan yang disembelih dalam acara komunitas, dan hak berperan dalam pekerjaan publik atau pesta. Jambar yang dibagi-bagikan untuk pihak wanita adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.
Ruhut Ni Parjambaron Juhut
Ruhut parjambaron juhut godang do variasina taida di ulaon adat-paradaton, hombar ma i tu rumang ni ulaon, luat ni namarulaon dohot situasi, kondisi, tempat, songon i nang di panjuhutina.
Orang-orang yang menerima jambar juhut di pesta adat istiadat adalah sebagai berikut :
a   Namarngingi              : tu Hula hula dohot Tulang
b  Osang                         : tu boru .
c   Ihur-ihur     : tu Parboru ( molo Sitorus Paranak  / Dibagihon molo Sitorus Parboru )
d   Soit            : tu dongan sahuta .dongan tubu .Pangula ni Huria.Pemerintah Setempat.
e   Somba-somba            :  tu horong tulang sahat tu hula hula anak manjae.
f   Panabolik                   : tu parhata/ parsinabung.

KAJIAN TEORI
Salah satu ragam dari varian semantik adalah semantik leksikal yaitu kajian semantik yang lebih memusatkan pada pembahasan sistem makna yang terdapat dalam kata. Definisi lain menyebutkan bahwa leksikologi atau ilmu kamus adalah ilmu yang membahas makna-makna leksikal yang terdapat dalam sebuah kamus, perkembangan kata, perubahan makna kata dan sebagainya.
Berdasarkan batasan-batasan dari masing-masing definisi di atas, maka secara implisit dapat dikatakan bahwa leksikologi merupakan salah satu cabang semantik yang memiliki fokus pembahasan pada makna yang terdapat dalam kamus (konvensional). Dengan kata lain, kajian leksikologi lebih sempit dibandingkan dengan semantik yang membahas tentang sifat-sifat dari simbol bahasa dan mengkaji makna yang terdapat dalam simbol tersebut baik dari aspek relasi makna, macam-macam makna, dan sebagainya.
Pada perkembangan selanjutnya, ketika sebuah kata dibenturkan atau didialektikakan secara faktual, timbul pelbagai problematika, dimana makna suatu kata tidak bisa difahami secara parsial atau homogen, karena makna kata terkait erat dengan penutur (speaker), pendengar (audiens), dan konteks (acuan) dari dan dimana kata itu diucapkan. Berdasarkan kegelisahan akademik di atas, maka makalah ini mencoba mengelaborasi terkait dengan makna (meaning), arti (sense), dan acuan (reference). Pembahasan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan signifikansi terhadap pengembangan keilmuan khususnya semantik dan leksikologi.
Pengertian Makna
Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Di bawah ini ada beberapa pengertian tentang makna tersebut. Antara lain sebagai berikut :
“Makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat”. Selanjutnya ia mengutip pendapat Stephen Ullman yang mengemukakan bahwa “makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian”.
“Makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik (Ferdinand de Saussure)”.
“Makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya (Bloomfield).
“Makna merupakan hubungan antara bahasa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahasa sehingga dapat saling dimengerti”.
Dalam Kamus Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi :
“Maksud pembicara; Pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia; Hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya, dan cara menggunakan lambang-lambang bahasa”.
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli bahasa di atas, dapat dikatakan bahwa batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata. Namun demikian, di sini kita melihat bahwa makna memiliki hubungan dengan dunia luar yang menjadi penanda (simbol) dari makna yang diacu oleh sebuah kata. Atau bisa pula berdasarkan lambang-lambang itu sendiri.
Batasan Makna
Berbicara tentang batasan makna, sama sulitnya dengan memberikan pengertian tentang makna. Dalam kaitannya dengan batasan makna ini, Mansoer Pateda mengadaptasi dari Ullman yang mengusulkan istilah; name, sense, dan thing. Soal makna terdapat dalam sense, dan ada hubungan timbal balik antara nama dengan pengertian sense. Apabila seseorang mendengar kata tertentu, ia dapat membayangkan bendanya atau sesuatu yang diacu, dan apabila seseorang membayangkan sesuatu, ia segera dapat mengatakan pengertiannya itu. Hubungan antara nama dengan pengertian, itulah yang disebut makna.
Dari batasan-batasan makna yang dirujuk dari Odgen dan Richard tersebut mengindikasikan bahwa makna tak bisa dilepaskan dari acuan (referent), karena dengan acuan tersebut, kita akan dapat menemukan makna suatu kata. Meskipun demikian, tidak semua ahli bahasa menyimpulkan bahwa makna harus selamanya memiliki acuan.
Antara lain adalah Gottlob Frege, ia menjelaskan pembedaan ini berdasarkan persoalan tentang pernyataan keidentikan (identitas). Dimana sebuah kata adalah nama, mempunyai makna (yaitu isi pemerian) dan referensi (yaitu benda yang diacu/ditunjuk). Sedangkan sebagian yang lain menyatakan makna dan referensi itu sama. Di antara tokohnya adalah Bertrand Russel dan muridnya Ludwig Wittgenstein, yang mengemukakan bahwa referensi mengandung asumsi adanya hubungan antara kata (bahasa) dengan dunia (yaitu dunia di luar bahasa).
Makna Leksikal
Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, maka ia harus bersifat apa adanya, atau makna yang terdapat dalam kamus. Misalnya kata Kuda, maka ia merujuk pada sejenis binatang yang berkaki empat yang bisa dikendarai.
Referent
Istilah ini akan lebih mudah dipahami saat kita melihat segitiga makna yang dipopulerkan oleh Ogden dan Richards. Dua linguis ini membuat sebuah penemuan yang mengesankan. Konsep ini kurang lebih hampir sama dengan segitiga Ullman. Oleh karena itu, konsep ini sering digunakan penulis dalam menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kajian semantik. 


Pada gambar itu ada symbol yang memfokuskan pada kata sebagai bahasa simbolik. Jadi ketika sebuah kata yang ditulis atau diucapkan akan memiliki makna untuk merujuk kepada sesuatu diluar bahasa. Sebagai contoh, kita membaca tulisan ‘kursi’ dalam sebuah teks. Maka, kita akan menghubungkannya pada sebuah benda yang berdasarkan pengalaman kita, pernah melihat ataupun menggunakannya. Konteks fisikal inilah yang kemudian disebut referent. Tetapi dalam perkembangannya, konsep Ogden dan Richard lebih cocok untuk sebuah kata benda ‘yang konkrit’, bukan kata emotif. Kata emotif lebih sulit untuk dipahami secara lebih jelas karena telah dicampuradukkan dengan emosional, diplomatic dan gangguan lain. Sebagai contoh kata rajin, baik, kebebasan, kesetiaan. Istilah reference memiliki maksud pada symbol bahasa dan rujukan. Sebagai contoh, kita bisa menyebut ‘Ir. Sukarno’ atau ‘Presiden RI yang pertama’ guna merujuk pada referent yang sama. Dengan contoh yang telah diberikan ini kita bisa lebih mengerti apa yang dimaksud dengan reference dan referent.


DATA
      
    

PEMBAHASAN DATA DAN TEORI
Tanda makanan adat yang pokok adalah: kepala utuh, leher (tanggalan), rusuk melingkar (somba-somba) , pangkal paha (soit), punggung dengan ekor (upasira), hati dan jantung ditempatkan dalam baskom/ember besar. Tanda makanan adat diserahkan SP beserta Isteri didampingi saudara yang lain dipandu PRP, diserahkan kepada SW dengan bahasa adat, yang intinya menunjukkan kerendahan hati dengan mengatakan walaupun makanan yang dibawa itu sedikit/ala kadarnya  semoga ia tetap membawa manfaat dan berkat jasmani dan rohani hula-hula SW dan semua yang menyantap nya, sambil menyebut bahasa adat : Sitiktikma si gompa, golang golang pangarahutna, tung so sadia (otik) pe naung pinatupa i, sai godangma pinasuna.
Nama- nama pada Jambar Juhut
Namarmiak-miak (Pinahan Lobu)
1. Namarngingi (bagian otak belakang, kepala, kepala bagian atas, tempat otak)
2. Osang (kepala bagian bawah, rahang gigi)
3. Aliang-aliang (leher)
4. Somba-somba (rusuk depan secara utuh)
5. Soit (kaki)
6. Ihur-ihur (ekor)

Kalau dari daerah Silindung-Humbang sekitarnya yang berpesta (hasuhuton), pertama jambar itu diberikan kepada hula-hula dan tulang. Jadi jambar terakhir dibagi kepada yang berpesta. Tetapi yang berpesta dari toba dan sekitarnya, pertama jambar itu dibagi kepada yang namarhaha-maranggi kemudian barulah diberikan jambar kepada hula-hula dan tulang. Begitu juga jambar yang diberikan kepada pihak perempuan bagian dagunya. 

Pambagian jambar juhut di pesta pernikahan boru/ anak
  1. Dibagi duanya daging adat itu sudah disampaikan kepada pihak pria kepada perempuan. Walaupun disampaikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan daging adat dalam pesta dengan kata-kata atau amanah yang disampaikan, tetapi setelah selesai makan-makan ditanya kepada pihak perempuan atau raja parhata dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki tentang daging adat itu, eperti yang sudah di jelaskan dalam pembicaraan tentang pinangan perempuan, tetapi kalau bagian ekor dari jambar itu diberikan kepada pihak perempuan, walaupun dalam acara adat itu sistem jual-beli itulah kembalian dari tandok pihak perempuan.
  2. Setelah dibagi dua daging adat yang mau dimakan itu, disampaikan perempuanlah kemudian jambar bagian untuk laki-laki tersebut, berdampingan dengan percakapan dengan rasa ikhlasnya. Setelah itu dibagi pihak perempuanlah dengan pihak laki-laki daging adatnya kepada saudara-saudaranya.
3.      Pambagian jambar yang mau disampaikan oleh perempuan dengan pihka laki-laki seperti dalam table berikut ini :

 Jambar juhut sisampaikan pihak laki-laki :
 
Sijalo Jambar
Silindung/Humbang
Sude horong ni
hula-hula
somba-somba
Boru/Bere
namarngingi (hambirang)
- Pariban,
- Pangula ni huria,
- Dongan sahuta,
- Punguan

dibuat sian soit, pohu

Jambar juhut sisampaikan pihak Perempuan :
 
Sijalo Jambar
Silindung/Humbang
Suhut
ihur-ihur, soit
Hula-hula
Osang
Tulang
namarngingi (siamun)
Boru/Bere
namarngingi (hambirang)
- Hula-hula ni namarhaha-anggi,
- Hula2 ni anak manjae
- Tulang rorobot,
- Bona Tulang,
- Bona ni ari

somba-somba
- Pariban,
- Pangula ni huria,
- Dongan sahuta

soit, pohu
- Punguan
dibuat sian jambar ni suhut


PENUTUP
Indonesia merupakan kepulauan yang memiliki banyak ragam suku. Salah satu suku yang terkenal akan adat-istiadat dalam pernikahan adalah suku batak. Suku batak terdiri dari banyak bagian. Salah satunya adalah suku batak toba. Dalam pesta pernikahan batak toba bagian silindung-humbang berberda dengan batak toba silangit dan sekitarnya. Salah satu khas pernikahan batak toba daerah silindung-humbang adalah jambar. JAMBAR adalah istilah yang sangat khas Batak. Kata jambar menunjuk kepada hak atau bagian yang ditentukan bagi seseorang (sekelompok orang). Kultur Batak menyebutkan ada 3(tiga) jenis jambar. Yaitu: hak untuk mendapat bagian atas hewan sembelihan (jambar juhut), hak untuk berbicara (jambar hata) dan hak untuk mendapat peran atau tugas dalam pekerjaan publik atau komunitas (jambar ulaon). Jambar yang dibagi-bagikan untuk pihak wanita adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.

DAFTAR PUSTAKA
Adisutrisno, Prof.Dr. D. Wagiman. 2009. Semantics: An Introduction to the Basic Concepts. Yogyakarta: Andi.
Lyons, John. 1995. Linguistic Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.
http://www.gigihsantoso.com/index.php?option=com_content&task=view&id=61&Itemid=12




DOWNLOAD (Buka Disini)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar