ANALISIS KOMPONEN MAKNA
LEKSIKOLOGIS
( MAKNA DAN REFERENSI ) PADA PEMBAGIAN JAMBAR DALAM PESTA NIKAH DAERAH SILINDUNG-HUMBANG
SIBORONG-BORONG
Diajukan
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Semantik
Oleh :
Srimarni
Nababan ( 12110297 )
Dosen Pengampuh : Sarma
Panggabean, S.Pd., M.Si
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN
MEDAN
2014
PENGANTAR
Mengenai tentang Jambar
Setelah selesai
pemberkatan dari Gereja, kedua mempelai juga menerima pemberkatan dari adat
yaitu dari seluruh keluarga terkhusus kedua orang tua. Dalam pesta adat inilah
disampaikan doa-doa bagi kedua mempelai yang diwakili dengan pemberian ulos. JAMBAR
adalah istilah yang sangat khas Batak. Kata jambar menunjuk kepada hak atau
bagian yang ditentukan bagi seseorang (sekelompok orang). Kultur Batak
menyebutkan ada 3(tiga) jenis jambar. Yaitu: hak untuk mendapat bagian atas
hewan sembelihan (jambar juhut), hak untuk berbicara (jambar hata) dan hak
untuk mendapat peran atau tugas dalam pekerjaan publik atau komunitas (jambar
ulaon).
Tiap-tiap
orang Batak atau kelompok dalam masyarakat Batak (hula-hula, dongan sabutuha,
boru, dongan sahuta dll) sangat menghayati dirinya sebagai parjambar. Yaitu:
orang yang memiliki sedikit-dikitnya 3(tiga) hak: bicara, hak mendapat bagian
atas hewan yang disembelih dalam acara komunitas, dan hak berperan dalam
pekerjaan publik atau pesta. Jambar yang dibagi-bagikan untuk
pihak wanita adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru)
dibagi menurut peraturan.
Ruhut Ni Parjambaron Juhut
Ruhut parjambaron juhut godang do variasina taida di ulaon
adat-paradaton, hombar ma i tu rumang ni ulaon, luat ni namarulaon dohot
situasi, kondisi, tempat, songon i nang di panjuhutina.
Orang-orang yang menerima jambar
juhut di pesta adat istiadat adalah sebagai berikut :
a Namarngingi : tu Hula hula dohot Tulang
b Osang : tu boru .
c Ihur-ihur :
tu Parboru ( molo Sitorus Paranak / Dibagihon molo Sitorus Parboru )
d Soit :
tu dongan sahuta .dongan tubu .Pangula ni Huria.Pemerintah Setempat.
e Somba-somba : tu
horong tulang sahat tu hula hula anak manjae.
f Panabolik : tu parhata/ parsinabung.
KAJIAN TEORI
Salah satu
ragam dari varian semantik adalah semantik leksikal yaitu kajian semantik yang
lebih memusatkan pada pembahasan sistem makna yang terdapat dalam kata.
Definisi lain menyebutkan bahwa leksikologi atau ilmu kamus adalah ilmu yang
membahas makna-makna leksikal yang terdapat dalam sebuah kamus, perkembangan
kata, perubahan makna kata dan sebagainya.
Berdasarkan batasan-batasan
dari masing-masing definisi di atas, maka secara implisit dapat dikatakan bahwa
leksikologi merupakan salah satu cabang semantik yang memiliki fokus pembahasan
pada makna yang terdapat dalam kamus (konvensional). Dengan kata lain, kajian
leksikologi lebih sempit dibandingkan dengan semantik yang membahas tentang
sifat-sifat dari simbol bahasa dan mengkaji makna yang terdapat dalam simbol
tersebut baik dari aspek relasi makna, macam-macam makna, dan sebagainya.
Pada
perkembangan selanjutnya, ketika sebuah kata dibenturkan atau didialektikakan
secara faktual, timbul pelbagai problematika, dimana makna suatu kata tidak
bisa difahami secara parsial atau homogen, karena makna kata terkait erat
dengan penutur (speaker), pendengar (audiens), dan konteks
(acuan) dari dan dimana kata itu diucapkan. Berdasarkan kegelisahan akademik di
atas, maka makalah ini mencoba mengelaborasi terkait dengan makna (meaning),
arti (sense), dan acuan (reference). Pembahasan ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi dan signifikansi terhadap pengembangan
keilmuan khususnya semantik dan leksikologi.
Pengertian Makna
Makna adalah
bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja
yang kita tuturkan. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Di bawah
ini ada beberapa pengertian tentang makna tersebut. Antara lain sebagai berikut
:
“Makna
merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu
menyatu pada tuturan kata maupun kalimat”. Selanjutnya ia mengutip pendapat
Stephen Ullman yang mengemukakan bahwa “makna adalah hubungan antara makna
dengan pengertian”.
“Makna sebagai
pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik
(Ferdinand de Saussure)”.
“Makna adalah
suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur
penting situasi di mana penutur mengujarnya (Bloomfield).
“Makna
merupakan hubungan antara bahasa dengan bahasa luar yang disepakati bersama
oleh pemakai bahasa sehingga dapat saling dimengerti”.
Dalam Kamus Linguistik,
pengertian makna dijabarkan menjadi :
“Maksud
pembicara; Pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku
manusia atau kelompok manusia; Hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak
sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya,
dan cara menggunakan lambang-lambang bahasa”.
Dari beberapa
pengertian yang dikemukakan oleh para ahli bahasa di atas, dapat dikatakan
bahwa batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap
pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam
memaknai sebuah ujaran atau kata. Namun demikian, di sini kita melihat bahwa
makna memiliki hubungan dengan dunia luar yang menjadi penanda (simbol) dari
makna yang diacu oleh sebuah kata. Atau bisa pula berdasarkan lambang-lambang
itu sendiri.
Batasan Makna
Berbicara
tentang batasan makna, sama sulitnya dengan memberikan pengertian tentang
makna. Dalam kaitannya dengan batasan makna ini, Mansoer Pateda mengadaptasi
dari Ullman yang mengusulkan istilah; name, sense, dan thing. Soal
makna terdapat dalam sense, dan ada hubungan timbal balik antara nama
dengan pengertian sense. Apabila seseorang mendengar kata tertentu, ia
dapat membayangkan bendanya atau sesuatu yang diacu, dan apabila seseorang
membayangkan sesuatu, ia segera dapat mengatakan pengertiannya itu. Hubungan
antara nama dengan pengertian, itulah yang disebut makna.
Dari
batasan-batasan makna yang dirujuk dari Odgen dan Richard tersebut
mengindikasikan bahwa makna tak bisa dilepaskan dari acuan (referent),
karena dengan acuan tersebut, kita akan dapat menemukan makna suatu kata.
Meskipun demikian, tidak semua ahli bahasa menyimpulkan bahwa makna harus
selamanya memiliki acuan.
Antara lain
adalah Gottlob Frege, ia menjelaskan pembedaan ini berdasarkan persoalan
tentang pernyataan keidentikan (identitas). Dimana sebuah kata adalah nama,
mempunyai makna (yaitu isi pemerian) dan referensi (yaitu benda yang
diacu/ditunjuk). Sedangkan sebagian yang lain menyatakan makna dan referensi
itu sama. Di antara tokohnya adalah Bertrand Russel dan muridnya Ludwig
Wittgenstein, yang mengemukakan bahwa referensi mengandung asumsi adanya
hubungan antara kata (bahasa) dengan dunia (yaitu dunia di luar bahasa).
Makna Leksikal
Makna leksikal
adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indera
kita, maka ia harus bersifat apa adanya, atau makna yang terdapat dalam kamus.
Misalnya kata Kuda, maka ia merujuk pada sejenis binatang yang
berkaki empat yang bisa dikendarai.
Referent
Istilah
ini akan lebih mudah dipahami saat kita melihat segitiga makna yang
dipopulerkan oleh Ogden dan Richards. Dua linguis ini membuat sebuah penemuan
yang mengesankan. Konsep ini kurang lebih hampir sama dengan segitiga Ullman. Oleh
karena itu, konsep ini sering digunakan penulis dalam menjelaskan hal-hal yang
berkaitan dengan kajian semantik.
Pada
gambar itu ada symbol yang memfokuskan pada kata sebagai bahasa simbolik. Jadi
ketika sebuah kata yang ditulis atau diucapkan akan memiliki makna untuk
merujuk kepada sesuatu diluar bahasa. Sebagai contoh, kita membaca tulisan
‘kursi’ dalam sebuah teks. Maka, kita akan menghubungkannya pada sebuah benda
yang berdasarkan pengalaman kita, pernah melihat ataupun menggunakannya.
Konteks fisikal inilah yang kemudian disebut referent. Tetapi dalam
perkembangannya, konsep Ogden dan Richard lebih cocok untuk sebuah kata benda
‘yang konkrit’, bukan kata emotif. Kata emotif lebih sulit untuk dipahami
secara lebih jelas karena telah dicampuradukkan dengan emosional, diplomatic
dan gangguan lain. Sebagai contoh kata rajin, baik, kebebasan, kesetiaan.
Istilah reference memiliki maksud pada
symbol bahasa dan rujukan. Sebagai contoh, kita bisa menyebut ‘Ir. Sukarno’
atau ‘Presiden RI yang pertama’ guna merujuk pada referent yang sama. Dengan contoh yang telah diberikan ini kita
bisa lebih mengerti apa yang dimaksud dengan
reference dan referent.
DATA
PEMBAHASAN DATA
DAN TEORI
Tanda
makanan adat yang pokok adalah: kepala utuh, leher (tanggalan), rusuk melingkar
(somba-somba) , pangkal paha (soit), punggung dengan ekor (upasira), hati dan
jantung ditempatkan dalam baskom/ember besar. Tanda makanan adat diserahkan SP
beserta Isteri didampingi saudara yang lain dipandu PRP, diserahkan kepada SW
dengan bahasa adat, yang intinya menunjukkan kerendahan hati dengan mengatakan
walaupun makanan yang dibawa itu sedikit/ala kadarnya semoga ia tetap
membawa manfaat dan berkat jasmani dan rohani hula-hula SW dan semua yang
menyantap nya, sambil menyebut bahasa adat : Sitiktikma si gompa, golang golang
pangarahutna, tung so sadia (otik) pe naung pinatupa i, sai godangma pinasuna.
Nama- nama pada Jambar Juhut
Namarmiak-miak (Pinahan Lobu)
1. Namarngingi (bagian otak belakang, kepala,
kepala bagian atas, tempat otak)
2. Osang (kepala bagian bawah, rahang gigi)
3. Aliang-aliang (leher)
4. Somba-somba
(rusuk depan secara utuh)
5. Soit (kaki)
6. Ihur-ihur (ekor)
Kalau dari daerah Silindung-Humbang sekitarnya yang berpesta (hasuhuton),
pertama jambar itu diberikan kepada hula-hula dan tulang. Jadi jambar terakhir dibagi kepada yang
berpesta. Tetapi yang berpesta dari toba dan sekitarnya, pertama jambar itu
dibagi kepada yang namarhaha-maranggi kemudian barulah diberikan jambar kepada
hula-hula dan tulang. Begitu juga jambar yang diberikan kepada pihak perempuan
bagian dagunya.
Pambagian jambar juhut di pesta
pernikahan boru/ anak
- Dibagi duanya daging adat itu sudah disampaikan kepada pihak pria kepada perempuan. Walaupun disampaikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan daging adat dalam pesta dengan kata-kata atau amanah yang disampaikan, tetapi setelah selesai makan-makan ditanya kepada pihak perempuan atau raja parhata dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki tentang daging adat itu, eperti yang sudah di jelaskan dalam pembicaraan tentang pinangan perempuan, tetapi kalau bagian ekor dari jambar itu diberikan kepada pihak perempuan, walaupun dalam acara adat itu sistem jual-beli itulah kembalian dari tandok pihak perempuan.
- Setelah dibagi dua daging adat yang mau dimakan itu, disampaikan perempuanlah kemudian jambar bagian untuk laki-laki tersebut, berdampingan dengan percakapan dengan rasa ikhlasnya. Setelah itu dibagi pihak perempuanlah dengan pihak laki-laki daging adatnya kepada saudara-saudaranya.
3.
Pambagian jambar yang mau disampaikan
oleh perempuan dengan pihka laki-laki seperti dalam table berikut ini :
Jambar juhut sisampaikan pihak laki-laki :
Sijalo Jambar
|
Silindung/Humbang
|
Sude horong ni
hula-hula
|
somba-somba
|
Boru/Bere
|
namarngingi (hambirang)
|
- Pariban,
- Pangula ni huria,
- Dongan sahuta,
- Punguan
|
dibuat sian soit, pohu
|
Jambar
juhut sisampaikan pihak Perempuan :
Sijalo Jambar
|
Silindung/Humbang
|
Suhut
|
ihur-ihur, soit
|
Hula-hula
|
Osang
|
Tulang
|
namarngingi (siamun)
|
Boru/Bere
|
namarngingi (hambirang)
|
- Hula-hula ni namarhaha-anggi,
- Hula2 ni anak manjae
- Tulang rorobot,
- Bona Tulang,
- Bona ni ari
|
somba-somba
|
- Pariban,
- Pangula ni huria,
- Dongan sahuta
|
soit, pohu
|
- Punguan
|
dibuat sian jambar ni suhut
|
PENUTUP
Indonesia merupakan kepulauan yang memiliki banyak ragam
suku. Salah satu suku yang terkenal akan adat-istiadat dalam pernikahan adalah
suku batak. Suku batak terdiri dari banyak bagian. Salah satunya adalah suku
batak toba. Dalam pesta pernikahan batak toba bagian silindung-humbang berberda
dengan batak toba silangit dan sekitarnya. Salah satu khas pernikahan batak
toba daerah silindung-humbang adalah jambar. JAMBAR adalah istilah yang sangat
khas Batak. Kata jambar menunjuk kepada hak atau bagian yang ditentukan bagi
seseorang (sekelompok orang). Kultur Batak menyebutkan ada 3(tiga) jenis
jambar. Yaitu: hak untuk mendapat bagian atas hewan sembelihan (jambar juhut),
hak untuk berbicara (jambar hata) dan hak untuk mendapat peran atau tugas dalam
pekerjaan publik atau komunitas (jambar ulaon). Jambar yang dibagi-bagikan
untuk pihak wanita adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru)
dibagi menurut peraturan.
DAFTAR PUSTAKA
Adisutrisno, Prof.Dr. D. Wagiman. 2009. Semantics: An Introduction to the Basic
Concepts. Yogyakarta: Andi.
Lyons, John. 1995. Linguistic Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.
http://www.gigihsantoso.com/index.php?option=com_content&task=view&id=61&Itemid=12
DOWNLOAD (Buka Disini)
DOWNLOAD (Buka Disini)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar